Sabtu, 21 Juni 2014

Analisis Puisi "Aku Ingin" (Sapardi Djoko Damono)

Biografi Sapardi Djoko Damono
Prof Dr Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai salah seorang sastrawan yang memberi sumbangan besar kepada kebudayaan masyarakat modern di Indonesia. Salah satu sumbangan terbesar Guru Besar Fakultas Sastra UI ini adalah melanjutkan tradisi puisi lirik dan berupaya menghidupkan kembali sajak empat seuntai atau kwatrin yang sudah muncul di jaman para pujangga baru seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar.
Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah pada 20 Maret 1940 ini, mengaku tak pernah berencana menjadi penyair, karena dia berkenalan dengan puisi secara tidak disengaja. Sejak masih belia putra Sadyoko dan Sapariyah itu, sering membenamkan diri dalam tulisan-tulisannya. Bahkan, ia pernah menulis sebanyak delapan belas sajak hanya dalam satu malam. Kegemarannya pada sastra, sudah mulai tampak sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kemudian, ketika duduk di SMA, ia memilih jurusan sastra dan kemudian melanjutkan pendidikan di UGM, fakultas sastra.
Anak sulung dari dua bersaudara abdi dalem Keraton Surakarta itu mungkin mewarisi kesenimanan dari kakek dan neneknya. Kakeknya dari pihak ayah pintar membuat wayang—hanya sebagai kegemaran—dan pernah memberikan sekotak wayang kepada sang cucu. Nenek dari pihak ibunya gemar menembang (menyanyikan puisi Jawa) dari syair yang dibuat sendiri. “Tapi saya tidak bisa menyanyi, suara saya jelek,” ujar bekas pemegang gitar melodi band FS UGM Yogyakarta itu. Sadar akan kelemahannya, Sapardi kemudian mengembangkan diri sebagai penyair.
Selain menjadi penyair, ia juga melaksanakan cita-cita lamanya: menjadi dosen. “Jadi dosen ‘kan enak. Kalau pegawai kantor, harus duduk dari pagi sampai petang,” ujar lulusan Jurusan Sastra Barat FS&K UGM ini. Dan begitu meraih gelar sarjana sastra, 1964, ia mengajar di IKIP Malang cabang Madiun, selama empat tahun, dilanjutkan di Universitas Diponegoro, Semarang, juga selama empat tahun. Sejak 1974, Sapardi mengajar di FS UI.
Sapardi menulis puisi sejak di kelas II SMA. Karyanya dimuat pertama kali oleh sebuah surat kabar di Semarang. Tidak lama kemudian, karya sastranya berupa puisi-puisi banyak diterbitkan di berbagai majalah sastra, majalah budaya dan diterbitkan dalam buku-buku sastra. Beberapa karyanya yang sudah berada di tengah masyarakat, antara lain Duka Mu Abadi (1969), Mata Pisau dan Aquarium (1974).
Sebuah karya besar yang pernah ia buat adalah kumpulan sajak yang berjudul Perahu Kertas dan memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta dan kumpulan sajak Sihir Hujan – yang ditulisnya ketika ia sedang sakit – memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia. Kabarnya, hadiah sastra berupa uang sejumlah Rp 6,3 juta saat memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia langsung dibelanjakannya memborong buku. Selain itu ia pernah memperoleh penghargaan SEA Write pada 1986 di Bangkok, Thailand.
Para pengamat menilai sajak-sajak Sapardi dekat dengan Tuhan dan kematian. “Pada Sapardi, maut atau kematian dipandang sebagai bagian dari kehidupan; bersama kehidupan itu pulalah maut tumbuh,” tulis Jakob Sumardjo dalam harian Pikiran Rakyat, 19 Juli 1984.
Bekas anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini juga menulis esei dan kritik. Sapardi, yang pernah menjadi redaktur Basis dan kini bekerja di redaksi Horison, berpendapat, di dalam karya sastra ada dua segi: tematik dan stilistik (gaya penulisan). Secara gaya, katanya, sudah ada pembaruan di Indonesia. Tetapi di dalam tema, belum banyak.
Penyair yang pernah kuliah di Universitas Hawaii, Honolulu, AS, ini juga menulis buku ilmiah, satu di antaranya Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas. (1978).
Selain melahirkan puisi-puisi, Sapardi juga aktif menulis esai, kritik sastra, artikel serta menerjemahkan berbagai karya sastra asing. Dengan terjemahannya itu, Sapardi mempunyai kontribusi penting terhadap pengembangan sastra di Tanah Air. Selain dia menjembatani karya asing kepada pembaca sastra, ia patut dihargai sebagai orang yang melahirkan bentuk sastra baru.
Dengan kepekaan dan wawasan seorang sastrawan, Sapardi ikut mewarnai karya-karya terjemahannya seperti Puisi Brasilia Modern, Puisi Cina Klasik dan Puisi Parsi Klasik yang ditulis dalam bahasa Inggris. Selain itu dia juga menerjemahkan karya asing seperti karya Hemmingway The Old Man and the Sea, Daisy Manis (Henry James), semuanya pada 1970-an. Juga, sekitar 20 naskah drama seperti Syakuntala karya Kalidasa, Murder in Cathedral karya TS Elliot, dan Morning Become Electra trilogi karya Eugene O’neil.
Sumbangsih Sapardi juga cukup besar kepada budaya dan sastra, dengan melakukan penelitian, menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan aktif sebagai administrator dan pengajar, serta menjadi dekan Fakultas Sastra UI periode 1995-1999. Dia menjadi penggagas pengajaran mata kuliah Ilmu Budaya Dasar di fakultas sastra.
Dia menyadari bahwa menjadi seorang sastrawan tidak akan memperoleh kepuasan finansial. Kegiatan menulis adalah sebagai waktu istirahat, saat dia ingin melepaskan diri dari rutinitas pekerjaannya sehari-hari. Menikah dengan Wardiningsih, ia dikaruniai dua anak, Rasti Suryandani dan Rizki Henriko.

Aku ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Hakikat atau Struktur Bathin (Struktural)
1.    Tema : Tema puisi ini adalah cinta, si aku lirik mengungkapkan perasaan cintanya dengan sederhana, bijak dan bersahaja. Cinta yang dihadirkan bukan cinta yang posesif, berlebihan, mengandalkan nafsu dan birahi ataupun wujud yang lain, akan tetapi cinta disini hadir dengan wajah sederhana, sedang dan bijaksana.
2.    Rasa : Penyair disini sebagai (aku) mengungkapkan perasaan cinta dengan kata-kata yang sederhana, namun sederhana disini bukan berarti seadanya dan statis. Akan tetapi sebuah proses yang berkelanjutan. Seperti dalam larik :
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Proses peniadaan tersebut bukan berarti melenyapkan, akan tetapi sebuah proses yang berkelanjutan. Kayu tidak kan menjadi abu apabila api tidak membakarnya, begitu pula awan tak akan lenyap bila hujan tak mengurainya.
3.    Nada : Penyair ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa cinta bukanlah barang yang murah, cinta bukan perasaan yang selalu diiringi nafsu. Mencintai seseorang layaknya mencintai diri sendiri, tidak statis melainkan berkelanjutan.
4.    Amanat : Kita sebagai makhluk yang memiliki rasa cinta dan suka dengan keindahan sebaiknya menjunjung tinggi nilai moral dan estetika dalam hidup ini. Jangan sampai mencampuradukan nafsu kotor dengan cinta yang suci.

Unsur semiotic
1.    Mencintai à menyayangi, memperlakukan seseorang layaknya memperlakukan diri kita sendiri, melindungi.
2.    Sederhana à sedang, bersahaja, dan tidak banyak seluk beluknya
3.    Kayu (batang pohon yang rapuh apabila dibakar), Api (sesuatu yang panas yang bisa membakar kayu), Abu (hasil dari pembakaran kayu) à Kayu tidak akan menjadi abu apabila api tidak membakarnya. Proses peniadaan seakan tak terhentikan, bahkan barang sedetikpun.
4.    Awan, Hujan, Tiada à Awan tak akan lenyap bila hujan tak mengurainya.
5.    Tiada à Bukan maksud meniadakan, akan tetapi proses yang berkelanjutan. Jadi keberlanjutan itu seolah kebutuhan yang mesti ada untuk sampai pada wujud yang selanjutnya.

4 komentar:

  1. Sederhana, singkat... tapi penuh makna.

    BalasHapus
  2. Sangat membantu...bisa tidak ditambah unsur ekstrinsiknya kak?
    Terimakasih

    BalasHapus
  3. Nilai nilai yang terkandung dalam puisinya apa ya kak?

    BalasHapus
  4. tipografi dalam puisi tersebut apa kak

    BalasHapus