Babad Cirebon (Wawacan)
Bismillahirrahmanirrahim
Dangdanggula
Dangdanggula
babakuning tulis
nu
dianggih carita sajarah
lampah
para wali kabeh
asalna
nu diturun
basa
Jawa tapi ku kuring
diganti
basa Sunda
amrih
nu ngadarangu
istri
pameget sadaya
tambah
ngantos malahmandar mangpat ka diri
purwa
dongkap ka wekasan
Ari nu mimiti di dangding
nyarioskeun raja Pajajaran
waktu ditinggalkeun lolos
ku putra ti Karaton
langkung tengtrem manah jeng gusti
ngan kantun putra duwa
bakal gentos ratu
anu pameget katelah
wulangsungsang ari raina mah istri
kakasih mas Rarasantang
Kacaturkeun
putra Siliwangi
anu
lolos ti jero nagara
jumlah
salapan eta the
lima
pameget hunjuk
ari
nu duwa mah istri
sadayana
sewang-sewang
tarapa
di gunung
putra
nu pangsepuhna
di
Jakarta raja nagri kabeh misti
duwa
santang pertala
Terjemahan
Babad
Cirebon (Wawacan)
Bismillahirrahmanirrahim
Dangdanggula
Dangdanggula
biasa dituliskan
yang
digubah cerita sejarah
kisah
semua para wali
asalnya
yang ditiru
bahasa
Jawa tetapi oleh ku
diganti
bahasa Sunda
agar
yang mendengarkan
wanita
pria semua
tambah
mengerti agar manfaat pada diri
awal
sampai dengan akhir
Yang mula-mula digubah
menceritakan raja Pajajaran sewaktu
ditinggalkan lolos
oleh putranda dari Kraton
lebih tentram hati sang Raja
hanya tinggal putra dua
yang bakal menjadi Raja
yang laki-laki bernama
wulangsungsang, adiknya seorang perempuan
bernama
Mas Rarasantang
Tersebutlah
putra Siliwangi
yang
meloloskan diri dari Negara
berjumlah
sembilan semuanya
lima
laki-laki unggul
yang
dua perempuan
semuanya
masing-masing
bertapa
di gunung
putra
yang tertua
di
Jakarta raja semua negeri pasti
dua
santang pertala
Sumber
Oleh
Penerbit
Tahun
Terbit
|
:
:
:
:
|
Naskah Sunda
Lama di Kabupaten Sumedang
Drs.
Abdurachman
DR.
Edi S. Ekadjati
Drs.
Oyon Sofyan Umran
Drs.
Ruswandi Zerkasih
Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan
Jakarta
1986
|
Pembahasan
Wawacan ini
dinyanyikan dalam bentuk pupuh dangdanggula. Bait
pertama menerangkan bahwa wawacan ini adalah puisi lama yang mengisahkan para
wali atau kisah-kisah jaman dahulu, baik yang bercerita tentang agama, budaya,
masalah social maupun kehidupan kerajaan, sebagaimana yang terdapat pada bait
pertama :
Dangdanggula
babakuning tulis
nu
dianggih carita sajarah
lampah
para wali kabeh
|
Dangdanggula
biasa dituliskan
yang
digubah cerita sejarah
kisah
semua para wali
|
Awalnya bahasa wawacan ini adalah bahasa
Jawa, namun ditranslitrasi menjadi bahasa Sunda, tujuan mengganti bahasa
tersebut adalah agar semua orang
mengerti dan bermanfaat bagi masyarakat, semua orang
dalam bait tersebut menurut saya adalah masyarakat Sunda khususnya masyarakat
Cirebon. Seseorang yang mengganti bahasa
tersebut kemungkinan besar adalah orang yang mengerti dua bahasa yaitu bahasa
Jawa dan bahasa Sunda. Terdapat pada bait pertama :
asalna
nu diturun
basa
Jawa tapi ku kuring
diganti
basa Sunda
amrih
nu ngadarangu
istri
pameget sadaya
tambah
ngantos malahmandar mangpat ka diri
purwa dongkap ka
wekasan
|
asalnya
yang ditiru
bahasa
Jawa tetapi oleh ku
diganti
bahasa Sunda
agar
yang mendengarkan
wanita
pria semua
tambah
mengerti agar manfaat pada diri
awal sampai dengan
akhir
|
Wawacan ini
mengisahkan kehidupan di istana kerajaan Pajajaran yang aman, damai dan
tentram. Namun itu tidak berlangsung lama, Sembilan orang anak Raja Pajajaran
meninggalkan Kerajaan, gundah hati sang Raja, namun dibalik kegundahan hati
sang Raja ada rasa bahagia dan hati yang tentram.
Raja tidak perlu
khawatir dan risau tentang siapa yang akan menggantikan posisi Raja. Karena di
kerajaan ada dua orang anak yang masih tersisa yaitu Wulangsungsang dan
Rarasantang. Raja bahagia karena mungkin mereka adalah anak-anak yang patuh dan
baik.
Sebagai mana
yang terdapat pada bait kedua :
Ari
nu mimiti di dangding
nyarioskeun
raja Pajajaran
waktu
ditinggalkeun lolos
ku
putra ti Karaton
langkung
tengtrem manah jeng gusti
ngan
kantun putra duwa
bakal
gentos ratu
anu
pameget katelah
wulangsungsang
ari raina mah istri
kakasih
mas Rarasantang
|
Yang
mula-mula digubah
menceritakan
raja Pajajaran
sewaktu
ditinggalkan lolos
oleh
putranda dari Kraton
lebih
tentram hati sang Raja
hanya
tinggal putra dua
yang
bakal menjadi Raja
yang
laki-laki bernama
wulangsungsang,
adiknya seorang perempuan
bernama Mas
Rarasantang
|
Putra Siliwangi
yang meninggalkan Kerajaan semuanya berjumlah sembilan orang, laki-laki
berjumlah lima orang, sedangkan perempuan berjumlah dua orang.
Diceritakan
semua putra Kerajaan bertapa di gunung, mungkin untuk menyepi atau mengasingkan
diri dari keramaian, atau mungkin bertapa bertujuan untuk mencari ilmu
kanuragan, ilmu kanuragan pada jaman dahulu konon ada.
Putra tertua
bertapa di Jakarta, Raja semua negeri. Saya kurang paham mengenai Jakarta. Jakarta mungkin nama tempat
yang istimewa pada waktu itu, atau mungkin Jakarta adalah istilah untuk suatu tempat yang besar.
Seperti yang
terdapat pada bait ketiga :
Kacaturkeun
putra Siliwangi
anu
lolos ti jero nagara
jumlah
salapan eta teh
lima
pameget hunjuk
ari
nu duwa mah istri
sadayana
sewang-sewang
tarapa
di gunung
putra
nu pangsepuhna
di
Jakarta raja nagri kabeh misti
duwa
santang pertala
|
Tersebutlah
putra Siliwangi
yang
meloloskan diri dari Negara
berjumlah
sembilan semuanya
lima
laki-laki unggul
yang
dua perempuan
semuanya
masing-masing
bertapa
di gunung
putra
yang tertua
di
Jakarta raja semua negeri pasti
dua
santang pertala
|
Hatur nuhun kang
BalasHapusMakasih banyak buat blognya,membantu sekali :'
BalasHapusIjin untuk digunakan di tugas kak 🙏