Rabu, 18 Juni 2014

Analisis "Babad Cirebon" (Wawacan)

Babad Cirebon (Wawacan)
Bismillahirrahmanirrahim
Dangdanggula
Dangdanggula babakuning tulis
nu dianggih carita sajarah
lampah para wali kabeh
asalna nu diturun
basa Jawa tapi  ku kuring
diganti basa Sunda
amrih nu ngadarangu
istri pameget sadaya
tambah ngantos malahmandar mangpat ka diri
purwa dongkap ka wekasan
            Ari nu mimiti di dangding
            nyarioskeun raja Pajajaran
            waktu ditinggalkeun lolos
            ku putra ti Karaton
            langkung tengtrem manah jeng gusti
            ngan kantun putra duwa
            bakal gentos ratu
            anu pameget katelah
            wulangsungsang ari raina mah istri
            kakasih mas Rarasantang
Kacaturkeun putra Siliwangi
anu lolos ti jero nagara
jumlah salapan eta the
lima pameget hunjuk
ari nu duwa mah istri
sadayana sewang-sewang
tarapa di gunung
putra nu pangsepuhna
di Jakarta raja nagri kabeh misti
duwa santang pertala




Terjemahan

Babad Cirebon (Wawacan)
Bismillahirrahmanirrahim
Dangdanggula
Dangdanggula biasa dituliskan
yang digubah cerita sejarah
kisah semua para wali
asalnya yang ditiru
bahasa Jawa tetapi oleh ku
diganti bahasa Sunda
agar yang mendengarkan
wanita pria semua
tambah mengerti agar manfaat pada diri
awal sampai dengan akhir
            Yang mula-mula digubah
            menceritakan raja Pajajaran sewaktu ditinggalkan lolos
            oleh putranda dari Kraton
            lebih tentram hati sang Raja
hanya tinggal putra dua
yang bakal menjadi Raja
yang laki-laki bernama
wulangsungsang, adiknya seorang perempuan
bernama Mas Rarasantang
Tersebutlah putra Siliwangi
yang meloloskan diri dari Negara
berjumlah sembilan semuanya
lima laki-laki unggul
yang dua perempuan
semuanya masing-masing
bertapa di gunung
putra yang tertua
di Jakarta raja semua negeri pasti
dua santang pertala



Sumber
Oleh



Penerbit

Tahun Terbit
:
:



:

:
Naskah Sunda Lama di Kabupaten Sumedang
Drs. Abdurachman
DR. Edi S. Ekadjati
Drs. Oyon Sofyan Umran
Drs. Ruswandi Zerkasih
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Jakarta 1986


Pembahasan

Wawacan ini dinyanyikan dalam bentuk pupuh dangdanggula. Bait pertama menerangkan bahwa wawacan ini adalah puisi lama yang mengisahkan para wali atau kisah-kisah jaman dahulu, baik yang bercerita tentang agama, budaya, masalah social maupun kehidupan kerajaan, sebagaimana yang terdapat pada bait pertama  :

Dangdanggula babakuning tulis
nu dianggih carita sajarah
lampah para wali kabeh

Dangdanggula biasa dituliskan
yang digubah cerita sejarah
kisah semua para wali


Awalnya bahasa wawacan ini adalah bahasa Jawa, namun ditranslitrasi menjadi bahasa Sunda, tujuan mengganti bahasa tersebut adalah agar semua orang mengerti dan bermanfaat bagi masyarakat, semua orang dalam bait tersebut menurut saya adalah masyarakat Sunda khususnya masyarakat Cirebon. Seseorang yang mengganti bahasa tersebut kemungkinan besar adalah orang yang mengerti dua bahasa yaitu bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Terdapat pada bait pertama :

asalna nu diturun
basa Jawa tapi  ku kuring
diganti basa Sunda
amrih nu ngadarangu
istri pameget sadaya
tambah ngantos malahmandar mangpat ka diri
purwa dongkap ka wekasan

asalnya yang ditiru
bahasa Jawa tetapi oleh ku
diganti bahasa Sunda
agar yang mendengarkan
wanita pria semua
tambah mengerti agar manfaat pada diri
awal sampai dengan akhir


Wawacan ini mengisahkan kehidupan di istana kerajaan Pajajaran yang aman, damai dan tentram. Namun itu tidak berlangsung lama, Sembilan orang anak Raja Pajajaran meninggalkan Kerajaan, gundah hati sang Raja, namun dibalik kegundahan hati sang Raja ada rasa bahagia dan hati yang tentram.
Raja tidak perlu khawatir dan risau tentang siapa yang akan menggantikan posisi Raja. Karena di kerajaan ada dua orang anak yang masih tersisa yaitu Wulangsungsang dan Rarasantang. Raja bahagia karena mungkin mereka adalah anak-anak yang patuh dan baik.
Sebagai mana yang terdapat pada bait kedua :

Ari nu mimiti di dangding
nyarioskeun raja Pajajaran
waktu ditinggalkeun lolos
ku putra ti Karaton
langkung tengtrem manah jeng gusti
ngan kantun putra duwa
bakal gentos ratu
anu pameget katelah
wulangsungsang ari raina mah istri
kakasih mas Rarasantang

Yang mula-mula digubah
menceritakan raja Pajajaran
sewaktu ditinggalkan lolos
oleh putranda dari Kraton
lebih tentram hati sang Raja
hanya tinggal putra dua
yang bakal menjadi Raja
yang laki-laki bernama
wulangsungsang, adiknya seorang perempuan
bernama Mas Rarasantang


Putra Siliwangi yang meninggalkan Kerajaan semuanya berjumlah sembilan orang, laki-laki berjumlah lima orang, sedangkan perempuan berjumlah dua orang.
Diceritakan semua putra Kerajaan bertapa di gunung, mungkin untuk menyepi atau mengasingkan diri dari keramaian, atau mungkin bertapa bertujuan untuk mencari ilmu kanuragan, ilmu kanuragan pada jaman dahulu konon ada.
Putra tertua bertapa di Jakarta, Raja semua negeri. Saya kurang paham mengenai Jakarta. Jakarta mungkin nama tempat yang istimewa pada waktu itu, atau mungkin Jakarta adalah istilah untuk suatu tempat yang besar.

Seperti yang terdapat pada bait ketiga :

Kacaturkeun putra Siliwangi
anu lolos ti jero nagara
jumlah salapan eta teh
lima pameget hunjuk
ari nu duwa mah istri
sadayana sewang-sewang
tarapa di gunung
putra nu pangsepuhna
di Jakarta raja nagri kabeh misti
duwa santang pertala

Tersebutlah putra Siliwangi
yang meloloskan diri dari Negara
berjumlah sembilan semuanya
lima laki-laki unggul
yang dua perempuan
semuanya masing-masing
bertapa di gunung
putra yang tertua
di Jakarta raja semua negeri pasti
dua santang pertala




2 komentar: