Sabtu, 21 Juni 2014

Analisis Puisi "Aku Ingin" (Sapardi Djoko Damono)

Biografi Sapardi Djoko Damono
Prof Dr Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai salah seorang sastrawan yang memberi sumbangan besar kepada kebudayaan masyarakat modern di Indonesia. Salah satu sumbangan terbesar Guru Besar Fakultas Sastra UI ini adalah melanjutkan tradisi puisi lirik dan berupaya menghidupkan kembali sajak empat seuntai atau kwatrin yang sudah muncul di jaman para pujangga baru seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar.
Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah pada 20 Maret 1940 ini, mengaku tak pernah berencana menjadi penyair, karena dia berkenalan dengan puisi secara tidak disengaja. Sejak masih belia putra Sadyoko dan Sapariyah itu, sering membenamkan diri dalam tulisan-tulisannya. Bahkan, ia pernah menulis sebanyak delapan belas sajak hanya dalam satu malam. Kegemarannya pada sastra, sudah mulai tampak sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kemudian, ketika duduk di SMA, ia memilih jurusan sastra dan kemudian melanjutkan pendidikan di UGM, fakultas sastra.
Anak sulung dari dua bersaudara abdi dalem Keraton Surakarta itu mungkin mewarisi kesenimanan dari kakek dan neneknya. Kakeknya dari pihak ayah pintar membuat wayang—hanya sebagai kegemaran—dan pernah memberikan sekotak wayang kepada sang cucu. Nenek dari pihak ibunya gemar menembang (menyanyikan puisi Jawa) dari syair yang dibuat sendiri. “Tapi saya tidak bisa menyanyi, suara saya jelek,” ujar bekas pemegang gitar melodi band FS UGM Yogyakarta itu. Sadar akan kelemahannya, Sapardi kemudian mengembangkan diri sebagai penyair.
Selain menjadi penyair, ia juga melaksanakan cita-cita lamanya: menjadi dosen. “Jadi dosen ‘kan enak. Kalau pegawai kantor, harus duduk dari pagi sampai petang,” ujar lulusan Jurusan Sastra Barat FS&K UGM ini. Dan begitu meraih gelar sarjana sastra, 1964, ia mengajar di IKIP Malang cabang Madiun, selama empat tahun, dilanjutkan di Universitas Diponegoro, Semarang, juga selama empat tahun. Sejak 1974, Sapardi mengajar di FS UI.
Sapardi menulis puisi sejak di kelas II SMA. Karyanya dimuat pertama kali oleh sebuah surat kabar di Semarang. Tidak lama kemudian, karya sastranya berupa puisi-puisi banyak diterbitkan di berbagai majalah sastra, majalah budaya dan diterbitkan dalam buku-buku sastra. Beberapa karyanya yang sudah berada di tengah masyarakat, antara lain Duka Mu Abadi (1969), Mata Pisau dan Aquarium (1974).
Sebuah karya besar yang pernah ia buat adalah kumpulan sajak yang berjudul Perahu Kertas dan memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta dan kumpulan sajak Sihir Hujan – yang ditulisnya ketika ia sedang sakit – memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia. Kabarnya, hadiah sastra berupa uang sejumlah Rp 6,3 juta saat memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia langsung dibelanjakannya memborong buku. Selain itu ia pernah memperoleh penghargaan SEA Write pada 1986 di Bangkok, Thailand.
Para pengamat menilai sajak-sajak Sapardi dekat dengan Tuhan dan kematian. “Pada Sapardi, maut atau kematian dipandang sebagai bagian dari kehidupan; bersama kehidupan itu pulalah maut tumbuh,” tulis Jakob Sumardjo dalam harian Pikiran Rakyat, 19 Juli 1984.
Bekas anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini juga menulis esei dan kritik. Sapardi, yang pernah menjadi redaktur Basis dan kini bekerja di redaksi Horison, berpendapat, di dalam karya sastra ada dua segi: tematik dan stilistik (gaya penulisan). Secara gaya, katanya, sudah ada pembaruan di Indonesia. Tetapi di dalam tema, belum banyak.
Penyair yang pernah kuliah di Universitas Hawaii, Honolulu, AS, ini juga menulis buku ilmiah, satu di antaranya Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas. (1978).
Selain melahirkan puisi-puisi, Sapardi juga aktif menulis esai, kritik sastra, artikel serta menerjemahkan berbagai karya sastra asing. Dengan terjemahannya itu, Sapardi mempunyai kontribusi penting terhadap pengembangan sastra di Tanah Air. Selain dia menjembatani karya asing kepada pembaca sastra, ia patut dihargai sebagai orang yang melahirkan bentuk sastra baru.
Dengan kepekaan dan wawasan seorang sastrawan, Sapardi ikut mewarnai karya-karya terjemahannya seperti Puisi Brasilia Modern, Puisi Cina Klasik dan Puisi Parsi Klasik yang ditulis dalam bahasa Inggris. Selain itu dia juga menerjemahkan karya asing seperti karya Hemmingway The Old Man and the Sea, Daisy Manis (Henry James), semuanya pada 1970-an. Juga, sekitar 20 naskah drama seperti Syakuntala karya Kalidasa, Murder in Cathedral karya TS Elliot, dan Morning Become Electra trilogi karya Eugene O’neil.
Sumbangsih Sapardi juga cukup besar kepada budaya dan sastra, dengan melakukan penelitian, menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan aktif sebagai administrator dan pengajar, serta menjadi dekan Fakultas Sastra UI periode 1995-1999. Dia menjadi penggagas pengajaran mata kuliah Ilmu Budaya Dasar di fakultas sastra.
Dia menyadari bahwa menjadi seorang sastrawan tidak akan memperoleh kepuasan finansial. Kegiatan menulis adalah sebagai waktu istirahat, saat dia ingin melepaskan diri dari rutinitas pekerjaannya sehari-hari. Menikah dengan Wardiningsih, ia dikaruniai dua anak, Rasti Suryandani dan Rizki Henriko.

Aku ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Hakikat atau Struktur Bathin (Struktural)
1.    Tema : Tema puisi ini adalah cinta, si aku lirik mengungkapkan perasaan cintanya dengan sederhana, bijak dan bersahaja. Cinta yang dihadirkan bukan cinta yang posesif, berlebihan, mengandalkan nafsu dan birahi ataupun wujud yang lain, akan tetapi cinta disini hadir dengan wajah sederhana, sedang dan bijaksana.
2.    Rasa : Penyair disini sebagai (aku) mengungkapkan perasaan cinta dengan kata-kata yang sederhana, namun sederhana disini bukan berarti seadanya dan statis. Akan tetapi sebuah proses yang berkelanjutan. Seperti dalam larik :
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Proses peniadaan tersebut bukan berarti melenyapkan, akan tetapi sebuah proses yang berkelanjutan. Kayu tidak kan menjadi abu apabila api tidak membakarnya, begitu pula awan tak akan lenyap bila hujan tak mengurainya.
3.    Nada : Penyair ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa cinta bukanlah barang yang murah, cinta bukan perasaan yang selalu diiringi nafsu. Mencintai seseorang layaknya mencintai diri sendiri, tidak statis melainkan berkelanjutan.
4.    Amanat : Kita sebagai makhluk yang memiliki rasa cinta dan suka dengan keindahan sebaiknya menjunjung tinggi nilai moral dan estetika dalam hidup ini. Jangan sampai mencampuradukan nafsu kotor dengan cinta yang suci.

Unsur semiotic
1.    Mencintai à menyayangi, memperlakukan seseorang layaknya memperlakukan diri kita sendiri, melindungi.
2.    Sederhana à sedang, bersahaja, dan tidak banyak seluk beluknya
3.    Kayu (batang pohon yang rapuh apabila dibakar), Api (sesuatu yang panas yang bisa membakar kayu), Abu (hasil dari pembakaran kayu) à Kayu tidak akan menjadi abu apabila api tidak membakarnya. Proses peniadaan seakan tak terhentikan, bahkan barang sedetikpun.
4.    Awan, Hujan, Tiada à Awan tak akan lenyap bila hujan tak mengurainya.
5.    Tiada à Bukan maksud meniadakan, akan tetapi proses yang berkelanjutan. Jadi keberlanjutan itu seolah kebutuhan yang mesti ada untuk sampai pada wujud yang selanjutnya.

Rabu, 18 Juni 2014

Analisis "Babad Cirebon" (Wawacan)

Babad Cirebon (Wawacan)
Bismillahirrahmanirrahim
Dangdanggula
Dangdanggula babakuning tulis
nu dianggih carita sajarah
lampah para wali kabeh
asalna nu diturun
basa Jawa tapi  ku kuring
diganti basa Sunda
amrih nu ngadarangu
istri pameget sadaya
tambah ngantos malahmandar mangpat ka diri
purwa dongkap ka wekasan
            Ari nu mimiti di dangding
            nyarioskeun raja Pajajaran
            waktu ditinggalkeun lolos
            ku putra ti Karaton
            langkung tengtrem manah jeng gusti
            ngan kantun putra duwa
            bakal gentos ratu
            anu pameget katelah
            wulangsungsang ari raina mah istri
            kakasih mas Rarasantang
Kacaturkeun putra Siliwangi
anu lolos ti jero nagara
jumlah salapan eta the
lima pameget hunjuk
ari nu duwa mah istri
sadayana sewang-sewang
tarapa di gunung
putra nu pangsepuhna
di Jakarta raja nagri kabeh misti
duwa santang pertala




Terjemahan

Babad Cirebon (Wawacan)
Bismillahirrahmanirrahim
Dangdanggula
Dangdanggula biasa dituliskan
yang digubah cerita sejarah
kisah semua para wali
asalnya yang ditiru
bahasa Jawa tetapi oleh ku
diganti bahasa Sunda
agar yang mendengarkan
wanita pria semua
tambah mengerti agar manfaat pada diri
awal sampai dengan akhir
            Yang mula-mula digubah
            menceritakan raja Pajajaran sewaktu ditinggalkan lolos
            oleh putranda dari Kraton
            lebih tentram hati sang Raja
hanya tinggal putra dua
yang bakal menjadi Raja
yang laki-laki bernama
wulangsungsang, adiknya seorang perempuan
bernama Mas Rarasantang
Tersebutlah putra Siliwangi
yang meloloskan diri dari Negara
berjumlah sembilan semuanya
lima laki-laki unggul
yang dua perempuan
semuanya masing-masing
bertapa di gunung
putra yang tertua
di Jakarta raja semua negeri pasti
dua santang pertala



Sumber
Oleh



Penerbit

Tahun Terbit
:
:



:

:
Naskah Sunda Lama di Kabupaten Sumedang
Drs. Abdurachman
DR. Edi S. Ekadjati
Drs. Oyon Sofyan Umran
Drs. Ruswandi Zerkasih
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Jakarta 1986


Pembahasan

Wawacan ini dinyanyikan dalam bentuk pupuh dangdanggula. Bait pertama menerangkan bahwa wawacan ini adalah puisi lama yang mengisahkan para wali atau kisah-kisah jaman dahulu, baik yang bercerita tentang agama, budaya, masalah social maupun kehidupan kerajaan, sebagaimana yang terdapat pada bait pertama  :

Dangdanggula babakuning tulis
nu dianggih carita sajarah
lampah para wali kabeh

Dangdanggula biasa dituliskan
yang digubah cerita sejarah
kisah semua para wali


Awalnya bahasa wawacan ini adalah bahasa Jawa, namun ditranslitrasi menjadi bahasa Sunda, tujuan mengganti bahasa tersebut adalah agar semua orang mengerti dan bermanfaat bagi masyarakat, semua orang dalam bait tersebut menurut saya adalah masyarakat Sunda khususnya masyarakat Cirebon. Seseorang yang mengganti bahasa tersebut kemungkinan besar adalah orang yang mengerti dua bahasa yaitu bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Terdapat pada bait pertama :

asalna nu diturun
basa Jawa tapi  ku kuring
diganti basa Sunda
amrih nu ngadarangu
istri pameget sadaya
tambah ngantos malahmandar mangpat ka diri
purwa dongkap ka wekasan

asalnya yang ditiru
bahasa Jawa tetapi oleh ku
diganti bahasa Sunda
agar yang mendengarkan
wanita pria semua
tambah mengerti agar manfaat pada diri
awal sampai dengan akhir


Wawacan ini mengisahkan kehidupan di istana kerajaan Pajajaran yang aman, damai dan tentram. Namun itu tidak berlangsung lama, Sembilan orang anak Raja Pajajaran meninggalkan Kerajaan, gundah hati sang Raja, namun dibalik kegundahan hati sang Raja ada rasa bahagia dan hati yang tentram.
Raja tidak perlu khawatir dan risau tentang siapa yang akan menggantikan posisi Raja. Karena di kerajaan ada dua orang anak yang masih tersisa yaitu Wulangsungsang dan Rarasantang. Raja bahagia karena mungkin mereka adalah anak-anak yang patuh dan baik.
Sebagai mana yang terdapat pada bait kedua :

Ari nu mimiti di dangding
nyarioskeun raja Pajajaran
waktu ditinggalkeun lolos
ku putra ti Karaton
langkung tengtrem manah jeng gusti
ngan kantun putra duwa
bakal gentos ratu
anu pameget katelah
wulangsungsang ari raina mah istri
kakasih mas Rarasantang

Yang mula-mula digubah
menceritakan raja Pajajaran
sewaktu ditinggalkan lolos
oleh putranda dari Kraton
lebih tentram hati sang Raja
hanya tinggal putra dua
yang bakal menjadi Raja
yang laki-laki bernama
wulangsungsang, adiknya seorang perempuan
bernama Mas Rarasantang


Putra Siliwangi yang meninggalkan Kerajaan semuanya berjumlah sembilan orang, laki-laki berjumlah lima orang, sedangkan perempuan berjumlah dua orang.
Diceritakan semua putra Kerajaan bertapa di gunung, mungkin untuk menyepi atau mengasingkan diri dari keramaian, atau mungkin bertapa bertujuan untuk mencari ilmu kanuragan, ilmu kanuragan pada jaman dahulu konon ada.
Putra tertua bertapa di Jakarta, Raja semua negeri. Saya kurang paham mengenai Jakarta. Jakarta mungkin nama tempat yang istimewa pada waktu itu, atau mungkin Jakarta adalah istilah untuk suatu tempat yang besar.

Seperti yang terdapat pada bait ketiga :

Kacaturkeun putra Siliwangi
anu lolos ti jero nagara
jumlah salapan eta teh
lima pameget hunjuk
ari nu duwa mah istri
sadayana sewang-sewang
tarapa di gunung
putra nu pangsepuhna
di Jakarta raja nagri kabeh misti
duwa santang pertala

Tersebutlah putra Siliwangi
yang meloloskan diri dari Negara
berjumlah sembilan semuanya
lima laki-laki unggul
yang dua perempuan
semuanya masing-masing
bertapa di gunung
putra yang tertua
di Jakarta raja semua negeri pasti
dua santang pertala




Selasa, 17 Juni 2014

Apresiasi Unsur Cerita Pendek "Mbah Danu" Karya Nugroho Noto Susanto

A.  Pendahuluan
1.    Hakikat Apresiasi
a.    Pengertian Apresiasi
Apresiasi adalah suatu kegiatan mengakrabi karya sastra untuk mendapatkan pemahaman, penghayatan, dan penikmatan terhadap karya itu hingga diperoleh kekayaan wawasan  dan pengetahuan, kepekaan pikiran, dan rasa terhadap berbagai segi kehidupan. Dari kegiatan tersebut akhirnya timbul kecintaan dan penghargaan  terhadap cipta sastra.
Apresiasi sastra hakikatnya sikap menghargai sastra secara proporsional (pada tempatnya). Menghargai sastra artinya memberikan harga pada sastra sehingga sastra memiliki “kapling” dalam hati kita, dalam bathin kita.
Dengan menyediakan “kapling” dalam hati untuk sastra , kita secara spontan menyediakan waktu dan perhatian untuk membaca karya sastra. Lama kelamaan dari “kapling” itu dapat bertumbuhan buah cipta rasa itu dalam berbagai bentuk dan wujudnya sebagai sikap apresiatif terhadap sastra.
b.    Manfaat Apresiasi
Sudah ditegaskan bahwa apresiasi sastra itu adalah sikap menghargai sastra. Menghargai sastra berarti memberikan harga kepada sastra. Dengan memberikan harga kepada sastra itu, kita berusaha menjadikan sastra itu bermakna bagi kehidupan. Hal ini berarti bahwa kita yakin dan percaya bahwa sastra itu berguna. Tanpa kepercayaan dan keyakinan  itu tidak mungkin terwujud sikap apresiatif terhadap sastra.
Apresiasi Prosa mengakrabkan kita  dengan kehidupan. Mengakrabkan kita dengan kehidupan berarti mendekatkan kita dengan berbagai realitas (kenyataan) yang terjadi dalam kehidupan. Akrab dengan realitas kehidupan itu sudah dengan sendirinya, sebab kita ada dalam kenyataan kehidupan itu.
2.    Hakikat Cerpen
a.    Pengertian Cerpen
Cerita pendek atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan short story, merupakan satu karya sastra yang sering kita jumpai di berbagai media massa. Namun demikian apa sebenarnya dan bagaimana ciri-ciri cerita pendek itu, banyak yang masih memahaminya.
Cerita pendek apabila diuraikan menurut kata yang membentuknya berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut : cerita artinya tuturan yang membentang bagaimana terjadinya suatu hal, sedangkan pendek berarti kisah pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam situasi atau suatu ketika.
Cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.
Sementara itu, pendapat lain mengatakan bahwa cerita pendek adalah cerita atau parasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar terjadi tetapi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, serta relatif pendek).
Dari beberapa pendapat di atas penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan cerita pendek adalah karangan nasihat yang bersifat fiktif yang menceritakan suatu peristiwa dalam kehidupan pelakunya relatif singkat tetapi padat.
b.    Ciri-Ciri Cerpen
Di atas penulis kemukakan bahwa masih banyak orang belum mengetahui ciri-ciri sebuah cerita       pendek. Mengenai hal tersebut, di bawah ini penulis kemukakan ciri-ciri cerita pendek menurut pendapat pendapat para pakar sebagai berikut:
1)   Ceritanya pendek ;
2)   Bersifat rekaan (fiction) ;
3)   Bersifat naratif ; dan
4)   Memiliki kesan tunggal.
Pendapat lain mengenai ciri-ciri cerita pendek sebagai berikut:
1)   Cerita Pendek harus mengandung interprestasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
2)   Dalam sebuah cerita pendek sebuah insiden yang terutama menguasai jalan cerita.
3)   Cerita pendek harus mempunyai seorang yang menjadi pelaku atau tokoh utama.
4)   Cerita pendek harus satu efek atau kesan yang menarik.
Menurut pendapat lain, ciri-ciri cerita pendek adalah sebagai berikut.
1)      Ciri-ciri utama cerita pendek adalah singkat, padu, dan intensif (brevity, unity, and intensity).
2)      Unsur-unsur cerita pendek adalah adegan, toko, dan gerak (scena, character, and action).
3)      Bahasa cerita pendek harus tajam, sugestif, dan menarik perhatian (incicive, suggestive, and alert).
B.  Isi  Apresiasi Cerita Pendek  “Mbah Danu” Karya Nugroho Noto Susanto
1.    Tema
Tema yang menjadi ide atau gagasan dasar dari cerita ini adalah kehidupan sosial. Keadaan yang masih dapat ditemukan di masyarakat pada zaman sekarang ini. Zaman sekarang ini juga masih ada orang yang lebih percaya pada hal-hal yang tidak masuk akal daripada yang rasional  sehingga dapat menimbulkan perselisihan diantara mereka.
2.    Alur
a.    Satuan Peristiwa
1)        Terkenalah seorang pria tua yang bisa menyembuhkan orang sakitdengan ilmu ghaib bernama Mbah Danu.
2)        Suatu ketika Nah gadis pelayan keluarga Pak Jaksa jatuh sakit.
3)        Mbah Danu datang sesuai panggilan Pak Jaksa dengan membawa koper antik.
4)        Mbah Danu memukulkan sapu lidi kepada Nah sebagai media pengobatan.
5)        Mbah Danu menginjak-injak tubuh Nah.
6)        Mbah Danu membuka seluh pakaian Nah.
7)        Aakhirnya Nah sembuh berkat Mbah Danu.
8)        Mr. Salyo dan Ny. Salyo mengunjungi keluarga Pak Jaksa.
9)        Ny. Salyo Jatuh sakit.
10)    Mbah Danu datang sesuai panggilan Pak Jaksa.
11)    Mr. Salyo mengusir Mbah Danu karena tidak suka melihat perlakuannya kepada istrinya.
12)    Pelayan Pak Jaksa Mbok Rah sakit keras, kemudian  Mr. Salyo memanggil Dokter Umar Chattab.
13)    Dokter Umar Chattab mendiagnosis bahwa Mbok Rah terkena penyakit malaria dan Dokter juga memberikan obat pil kepada Mbok Rah.
14)    Keadaan Mbok Rah memburuk dan akhirnya meninggal  dunia.
15)    Mr. Salyo masuk kedalam kamar Mbok Rah dan menemukan pil yang membukit di bawah bale-bale kamar Mbok Rah
b.    Tahapan Alur
1)        Eksposisi
a)    Mbah Danu
b)   Mr Salyo
c)    Ny Salyo
d)   Bapak Jaksa
e)    Ibu Jaksa
f)    Dokter Umar Chattab
g)   Nah
h)   Mbok Rah
Tempat terjadinya peristiwa di rumah Pak Jaksa kota Rembang. Peristiwa yang akan terjadi yaitu ujian terhadap prabawa atau keeksistensian Mbah Danu sebagai dukun yang hebat menyembuhkan berbagai penyakit.
2)        Tahap Pertikaian
Nah, pelayan keluarga Pak Jaksa sakit keras, segera Pak Jaksa memanggil Mbah Danu agar mengobati Nah. Mbah Danu pun datang, dia mengobati Nah dengan memukuli Nah dengan sapu lidi dan meremas-remas tubuh Nah. Akhirnya Nah sembuh seperti sedia kala berkat Mbah Danu.
3)        Konflikasi
a)    Konflik
Ny. Salyo jatuh sakit, segera Pak Jaksa memanggil Mbah Danu. Mbah Danu pun datang dan menobati Ny. Salyo dengan cara memijit-mijit perutnya.
b)   Krisis
Mr. Salyo datang melihat perlakuan Mbah Danu kepada istrinya. Dengan sangat marah Mr. Salyo mengusir Mbah Danu. Ia tidak suka Mbah Danu memijit-mijit perut Ny. Salyo karena itu dapat membahayakan rahim. Mr. Salyo juga tidak percaya hal ghaib.
4)        Klimaks
Mbok Rah pelayan Pak Jaksa sakit keras. Segera Pak Jaksa memanggil Mbah Danu. Namun dengan cepat Mr. Salyo memanggil Dokter Umar Chattab dan kebetulan Dokter datang lebih awal daripada Mbah Danu. Dokter mendiagnosis Mbok Rah terkena penyakit Malaria, kemudian Dokter memberikan obat pil kepada Mbok Rah.
5)        Peleraian
Penyakit Mbok Rah semakin hari semakin parah padahal Dokter sudah memberikan obat pil, dan proses meminum obat juga disaksikan oleh Ny. Salyo. Malam harinya Mbok Rah meninggal dunia.
6)        Tahapan Akhir
Mr. Salyo ikut menyaksikan pengambilan jenazah Mbok Rah dari kamar. Mr. Salyo memasuki kamar Mbok Rah dan melihat pil yang membukit di bale-bale kamar Mbok Rah.
Akhirnya terungkap sudah, Mbok Rah meninggal dunia karena tidak meminum obat yang telah diberikan oleh Dokter.
c.    Jenis Konflik
Cerpen Mbah Danu termasuk kedalam jenis konflik manusia dengan  manusia.
3.    Latar
a.    Latar Sosial
Keadaan yang berupa adat istiadat atau budaya, nilai-nilai atau norma yang ada di tempat peristiwa cerita. Dalam cerpen Mbah Danu terdapat adat istiadat atau budaya pada zaman dahulu yang biasa dilakukan oleh seorang dukun terhadap orang yang sakit dengan cara-cara yang tidak masuk akal dan dengan tidak berdasarkan etika, nilai dan norma. Hal semacam itu bertentangan dengan nilai dan norma agama.
b.    Latar Tempat
Tempat peristiwa itu terjadi adalah di kediaman keluarga Mr. Salyo.
c.    Latar Ruang
Latar ruang di rumah keluarga pak jaksa. Pada saat Mbah Danu mengobati si Nah dengan cara yang mengenaskan yaitu dengan memukul-mukul dengan sapu lidi, memercikan ludah kepada dahi si sakit, menginjak-injak tubuh Nah, meremas-remas tubuh Nah, dan pada saat Nyonya Salyo sakit, Mbah Danu menekan perut Nyonya Salyo.
4.    Tokoh dan Penokohan
Watak tokoh cerpen Mbah Danu adalah sebagai berikut:
a.    Mbok Rah
Pemikirannya tidak maju, egois dan berprinsip kuat untuk mempertahankan adat yang ia yakini. Mbok Rah ini masih percaya pada hal-hal yang bersifat magis. Mbok Rah lebih percaya pada kemampuan sorang dukun daripada seorang dokter.
Keegoisan dan keteguhan mempertahankan adat yang dia yakini tergambar pada Mbok Rah tidak mau meminum obat dari dokter. Ini menunjukan Mbok Rah egis tidak mau menerima pengobatan lain padahal itu lebih masuk akal dan abik pula untuk kesehatan dirinya sendiri.
b.    Mbah Danu
Angkuh, keras, tetapi penuh kasih sayang. Watak Mbah Danu yang ankuh dilukiskan atau dipaparkan langsung oleh pengarang sendiri. Pada paragraf pertama ditunjukan oleh kalimat”Jalannya tegak seperti maharani yang angkuh”.
Namun dibalik keangkuhan itu Mbah Danu masih mempunyai kasih sayang. Hal itu dibuktikan oleh tingkah laku Mbah Danu kepada Nah. Ketika Nah diobati dengan kasar dan kejam namun kemudian Mbah Danu menidurkan Nah dengan lembut. Dibuktikan pada kalimat ”Mbah Danu menyelimuti Nah, dan memijat dahi nah dengan penuh kasih sayang”.
c.    Mr. Salyo
Rasional, berpikiran maju dan modern, baik, dan pintar. Mr. Salyo tidak percaya pada cara pengobatan Mbah Danu yang dekat dengan unsur magis. Mr. Salyo lebih percaya pada pengobatan dokter yang lebih modern dan masuk akal dan tidak membahayakan. Semua ini dapat dibuktikan melalui perkataan dan tingkah laku Mr. Salyo kepada Mbah Danu dan istrinya.
Mr. Salyo masuk ke kamar dari jalan-jalan tepi pantai. Dengan keras Mbah Danu di perintahkannya keluardari kamar seperti Mbah Danu mengusir setan-setan dari tubuh-tubuh orang sakit. Kemudian Mr. Salyo memarahi istrinya “engkau tahu bukan, bahwa pijatan itu dapat merusak rahimmu?.”
Dari perkataan dan tingkah laku yang digambarkan tersebut dapat disimpulkan Mr. Salyo memang tidak percaya pada hal-hal yang tidak logis dan pintar. Mr, Salyo mengetahui cara pengibatan yang baik dan yang tidak baik.
d.   Nyonya Salyo
Baik, penyayang, patuh, dan hormat kepada suami. Nyonya Salyo dengan penuh perhatian dan kasih sayang merawat Mbok Rah yang sakit. Hal ini terbukti oleh pernyataan Nyonya Salyo sendiri “saya sendiri yang memberikan pil-pil itu kepada Mbok Rah”.
Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa Nyonya salyo memang peduli dan merawat Mbok Rah. Nyonya Salyo juga menyiapkan pemakaman Mbok Rah bersama suaminya Mr. Salyo.
Cara Pengarang melukiskan tokoh adalah dengan :
a.    Penggambaran fisik
Pengarang menggambarkan fisik Mbah Danu, yaitu misalnya wajahnya yang besar seperti tengkorak, kulitnya liat seperti belulang, pipimya selalu menonjol oleh susur tembakau yang ada dalam mulutnya, jalannya tegak seperti seorang maharani yang angkuh.
b.  Dialog
Dialog antara Umar Chattab dan Mr.Salyo seperti dalam kalimat berikut : “Dokter Umar Chattab “Kininennya sudah tuan berikan sebagai yang saya tetapkan?” Tanyanya. “Ya”, jawab Nyonya Salyo mendahului suaminya, “saya sendiri yang memberikan pil-pil itu kepada Mbok Rah.”
Dan percakapan atau dialog yang dilakukan antara Mr.Salyo dan Nyonya Salyo : “kita telah berbuat sebaik mungkin”, kata Nyonya Salyo menghibur suaminya. “Mengapa Jeng, mengapa ia meninggal ?” tanya Mr. Salyo dengan gairah sambil memeluk bahu istrinya yang tidak menjawab. “Kita tak bisa percaya kepada nonsense itu bukan ?”  katanya lagi.
5.    Sudut Pandang
Pola yang digunakan Nugroho pada titik kisahnya menggunakan pola orang ketiga. Nugroho langsung mencantumkan nama tokohnya. Titik pandangan terarah yaitu pada tingkah laku Mbah Danu sebagai seorang dukun yang hebat dan tingkah lakunya yang salah atau tidak sesuai.
Nugroho memakai pola orang ketiga titik pandang terarah. Nugroho tidak begitu memperdulikan tokoh-tokoh yang lain. Tidak menggambarkan tokoh-tokohnya secara keseluruhan melainkan nugroho lebih terfokus pada tokoh Mbah Danu sebagai dukun yang hebat dalam menyembuhkan penyakit hingga akhirnya mendapatkan ujian atas ekstitensinya.
6.    Gaya
Pengarang menggunakan gaya dengan cara mengungkapkan masalah yang ditampilkannya. Pada saat tahap klimaks (puncak masalah), pengarang mengungkapkan masalah pada saat Mbah Danu tidak di izinkan menginjakan kakinya di rumah pak jaksa dan pada saat Mbok Rah mati, tetangga-tetangganya mengira bahwa tulah atau kualat Mbah Danu yang mengakibatkan Mbok Rah mati.
C.  Penutup
1.    Simpulan
Apresiasi sastra hakikatnya sikap menghargai sastra secara proporsional (pada tempatnya). Menghargai sastra artinya memberikan harga pada sastra sehingga sastra memiliki “kapling” dalam hati kita, dalam bathin kita.
Menghargai sastra berarti memberikan harga kepada sastra. Dengan memberikan harga kepada sastra itu, kita berusaha menjadikan sastra itu bermakna bagi kehidupan. Hal ini berarti bahwa kita yakin dan percaya bahwa sastra itu berguna. Tanpa kepercayaan dan keyakinan  itu tidak mungkin terwujud sikap apresiatif terhadap sastra.
Apresiasi Prosa mengakrabkan kita  dengan kehidupan. Mengakrabkan kita dengan kehidupan berarti mendekatkan kita dengan berbagai realitas (kenyataan) yang terjadi dalam kehidupan. Akrab dengan realitas kehidupan itu sudah dengan sendirinya, sebab kita ada dalam kenyataan kehidupan itu.
Cerpen “Mbah Danu” mengisahkan kehidupa sosial masyarakat di zaman yang modern akan tetapi masih memiliki kepercayaan-kepercayaan magis. Banyak pelajaran yang bisa kita petik di dalamnya. Diantaranya, kita tidak perlu percaya kepada pengobatan ilmu ghaib seperti dukun, karena pada zaman sekaran sudah ada obat-obat yang dapat digunakan hasil penelitian para dokter yang sama sekali tidak membahayakan.


DAFTAR PUSTAKA
Ahira, Anne. (2009). Pengertian Apresiasi dan Manfaatnya. [Online]. Tersedia : http://www.anneahira.com/pengertian-apresiasi-sastra.htm. [25 Juni 2001].

Riswandi, Bode dan Titin Kusmini. (2010). Pembelajaran Apresiasi Prosa Fiksi. Tasikmalaya: Siklus Pustaka.

Sudarmanto, A. (2009). Pengertian Cerita Pendek. [Online]. Tersedia : http://www.visikata.com/pengertianceritapendek-cerpen/. [25 Juni 2011].