A. Pendahuluan
1.
Hakikat
Apresiasi
a.
Pengertian Apresiasi
Apresiasi adalah suatu kegiatan
mengakrabi karya sastra untuk mendapatkan pemahaman, penghayatan, dan
penikmatan terhadap karya itu hingga diperoleh kekayaan wawasan dan pengetahuan, kepekaan pikiran, dan rasa
terhadap berbagai segi kehidupan. Dari kegiatan tersebut akhirnya timbul
kecintaan dan penghargaan terhadap cipta
sastra.
Apresiasi sastra hakikatnya sikap
menghargai sastra secara proporsional (pada tempatnya). Menghargai sastra
artinya memberikan harga pada sastra sehingga sastra memiliki “kapling” dalam
hati kita, dalam bathin kita.
Dengan menyediakan “kapling” dalam hati
untuk sastra , kita secara spontan menyediakan waktu dan perhatian untuk
membaca karya sastra. Lama kelamaan dari “kapling” itu dapat bertumbuhan buah
cipta rasa itu dalam berbagai bentuk dan wujudnya sebagai sikap apresiatif
terhadap sastra.
b.
Manfaat Apresiasi
Sudah ditegaskan bahwa apresiasi sastra
itu adalah sikap menghargai sastra. Menghargai sastra berarti memberikan harga
kepada sastra. Dengan memberikan harga kepada sastra itu, kita berusaha
menjadikan sastra itu bermakna bagi kehidupan. Hal ini berarti bahwa kita yakin
dan percaya bahwa sastra itu berguna. Tanpa kepercayaan dan keyakinan itu tidak mungkin terwujud sikap apresiatif terhadap
sastra.
Apresiasi Prosa mengakrabkan kita dengan kehidupan. Mengakrabkan kita dengan
kehidupan berarti mendekatkan kita dengan berbagai realitas (kenyataan) yang
terjadi dalam kehidupan. Akrab dengan realitas kehidupan itu sudah dengan
sendirinya, sebab kita ada dalam kenyataan kehidupan itu.
2.
Hakikat
Cerpen
a.
Pengertian Cerpen
Cerita
pendek atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan short story, merupakan satu
karya sastra yang sering kita jumpai di berbagai media massa. Namun demikian
apa sebenarnya dan bagaimana ciri-ciri cerita pendek itu, banyak yang masih
memahaminya.
Cerita
pendek apabila diuraikan menurut kata yang membentuknya berdasarkan Kamus Besar
Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut : cerita artinya tuturan yang
membentang bagaimana terjadinya suatu hal, sedangkan pendek berarti kisah
pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan
memusatkan diri pada satu tokoh dalam situasi atau suatu ketika.
Cerita
pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17
halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.
Sementara
itu, pendapat lain mengatakan bahwa cerita pendek adalah cerita atau parasi
(bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar terjadi tetapi
dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, serta relatif pendek).
Dari
beberapa pendapat di atas penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan cerita
pendek adalah karangan nasihat yang bersifat fiktif yang menceritakan suatu
peristiwa dalam kehidupan pelakunya relatif singkat tetapi padat.
b.
Ciri-Ciri Cerpen
Di atas penulis kemukakan bahwa
masih banyak orang belum mengetahui ciri-ciri sebuah cerita pendek. Mengenai
hal tersebut, di bawah ini penulis kemukakan ciri-ciri cerita pendek menurut
pendapat pendapat para pakar sebagai berikut:
1)
Ceritanya pendek ;
2)
Bersifat rekaan (fiction) ;
3)
Bersifat naratif ; dan
4)
Memiliki kesan tunggal.
Pendapat
lain mengenai ciri-ciri cerita pendek sebagai berikut:
1)
Cerita Pendek harus mengandung interprestasi pengarang
tentang konsepsinya mengenai kehidupan, baik secara langsung maupun tidak
langsung.
2)
Dalam sebuah cerita pendek sebuah insiden yang
terutama menguasai jalan cerita.
3)
Cerita pendek harus mempunyai seorang yang menjadi
pelaku atau tokoh utama.
4)
Cerita pendek harus satu efek atau kesan yang menarik.
Menurut pendapat lain, ciri-ciri
cerita pendek adalah sebagai berikut.
1)
Ciri-ciri utama cerita pendek adalah singkat, padu,
dan intensif (brevity, unity, and intensity).
2)
Unsur-unsur cerita pendek adalah adegan, toko, dan
gerak (scena, character, and action).
3)
Bahasa cerita pendek harus tajam, sugestif, dan
menarik perhatian (incicive, suggestive, and alert).
B. Isi
Apresiasi Cerita Pendek “Mbah
Danu” Karya Nugroho Noto Susanto
1.
Tema
Tema yang menjadi ide
atau gagasan dasar dari cerita ini adalah kehidupan sosial. Keadaan yang masih
dapat ditemukan di masyarakat pada zaman sekarang ini. Zaman sekarang ini juga
masih ada orang yang lebih percaya pada hal-hal yang tidak masuk akal daripada
yang rasional sehingga dapat menimbulkan
perselisihan diantara mereka.
2.
Alur
a.
Satuan Peristiwa
1)
Terkenalah seorang pria tua yang bisa
menyembuhkan orang sakitdengan ilmu ghaib bernama Mbah Danu.
2)
Suatu ketika Nah gadis pelayan keluarga
Pak Jaksa jatuh sakit.
3)
Mbah Danu datang sesuai panggilan Pak
Jaksa dengan membawa koper antik.
4)
Mbah Danu memukulkan sapu lidi kepada
Nah sebagai media pengobatan.
5)
Mbah Danu menginjak-injak tubuh Nah.
6)
Mbah Danu membuka seluh pakaian Nah.
7)
Aakhirnya Nah sembuh berkat Mbah Danu.
8)
Mr. Salyo dan Ny. Salyo mengunjungi
keluarga Pak Jaksa.
9)
Ny. Salyo Jatuh sakit.
10) Mbah
Danu datang sesuai panggilan Pak Jaksa.
11) Mr.
Salyo mengusir Mbah Danu karena tidak suka melihat perlakuannya kepada
istrinya.
12) Pelayan
Pak Jaksa Mbok Rah sakit keras, kemudian
Mr. Salyo memanggil Dokter Umar Chattab.
13) Dokter
Umar Chattab mendiagnosis bahwa Mbok Rah terkena penyakit malaria dan Dokter
juga memberikan obat pil kepada Mbok Rah.
14) Keadaan
Mbok Rah memburuk dan akhirnya meninggal
dunia.
15) Mr.
Salyo masuk kedalam kamar Mbok Rah dan menemukan pil yang membukit di bawah
bale-bale kamar Mbok Rah
b.
Tahapan Alur
1)
Eksposisi
a)
Mbah Danu
b)
Mr Salyo
c)
Ny Salyo
d)
Bapak Jaksa
e)
Ibu Jaksa
f)
Dokter Umar Chattab
g)
Nah
h)
Mbok Rah
Tempat terjadinya peristiwa di rumah Pak
Jaksa kota Rembang. Peristiwa yang akan terjadi yaitu ujian terhadap prabawa
atau keeksistensian Mbah Danu sebagai dukun yang hebat menyembuhkan berbagai
penyakit.
2)
Tahap Pertikaian
Nah, pelayan keluarga Pak Jaksa sakit
keras, segera Pak Jaksa memanggil Mbah Danu agar mengobati Nah. Mbah Danu pun
datang, dia mengobati Nah dengan memukuli Nah dengan sapu lidi dan
meremas-remas tubuh Nah. Akhirnya Nah sembuh seperti sedia kala berkat Mbah
Danu.
3)
Konflikasi
a)
Konflik
Ny.
Salyo jatuh sakit, segera Pak Jaksa memanggil Mbah Danu. Mbah Danu pun datang
dan menobati Ny. Salyo dengan cara memijit-mijit perutnya.
b)
Krisis
Mr. Salyo datang melihat perlakuan Mbah
Danu kepada istrinya. Dengan sangat marah Mr. Salyo mengusir Mbah Danu. Ia
tidak suka Mbah Danu memijit-mijit perut Ny. Salyo karena itu dapat
membahayakan rahim. Mr. Salyo juga tidak percaya hal ghaib.
4)
Klimaks
Mbok Rah pelayan Pak Jaksa sakit keras.
Segera Pak Jaksa memanggil Mbah Danu. Namun dengan cepat Mr. Salyo memanggil
Dokter Umar Chattab dan kebetulan Dokter datang lebih awal daripada Mbah Danu.
Dokter mendiagnosis Mbok Rah terkena penyakit Malaria, kemudian Dokter
memberikan obat pil kepada Mbok Rah.
5)
Peleraian
Penyakit Mbok Rah semakin hari semakin
parah padahal Dokter sudah memberikan obat pil, dan proses meminum obat juga
disaksikan oleh Ny. Salyo. Malam harinya Mbok Rah meninggal dunia.
6)
Tahapan Akhir
Mr. Salyo ikut menyaksikan pengambilan
jenazah Mbok Rah dari kamar. Mr. Salyo memasuki kamar Mbok Rah dan melihat pil
yang membukit di bale-bale kamar Mbok Rah.
Akhirnya terungkap sudah, Mbok Rah
meninggal dunia karena tidak meminum obat yang telah diberikan oleh Dokter.
c.
Jenis Konflik
Cerpen Mbah Danu
termasuk kedalam jenis konflik manusia dengan
manusia.
3.
Latar
a.
Latar Sosial
Keadaan yang berupa
adat istiadat atau budaya, nilai-nilai atau norma yang ada di tempat peristiwa
cerita. Dalam cerpen Mbah Danu terdapat adat istiadat atau budaya pada zaman
dahulu yang biasa dilakukan oleh seorang dukun terhadap orang yang sakit dengan
cara-cara yang tidak masuk akal dan dengan tidak berdasarkan etika, nilai dan
norma. Hal semacam itu bertentangan dengan nilai dan norma agama.
b.
Latar Tempat
Tempat peristiwa itu terjadi adalah di
kediaman keluarga Mr. Salyo.
c.
Latar Ruang
Latar
ruang di rumah keluarga pak jaksa. Pada saat Mbah Danu mengobati si Nah dengan
cara yang mengenaskan yaitu dengan memukul-mukul dengan sapu lidi, memercikan
ludah kepada dahi si sakit, menginjak-injak tubuh Nah, meremas-remas tubuh Nah,
dan pada saat Nyonya Salyo sakit, Mbah Danu menekan perut Nyonya Salyo.
4.
Tokoh
dan Penokohan
Watak tokoh cerpen Mbah Danu adalah
sebagai berikut:
a.
Mbok Rah
Pemikirannya tidak
maju, egois dan berprinsip kuat untuk mempertahankan adat yang ia yakini. Mbok
Rah ini masih percaya pada hal-hal yang bersifat magis. Mbok Rah lebih percaya
pada kemampuan sorang dukun daripada seorang dokter.
Keegoisan dan keteguhan
mempertahankan adat yang dia yakini tergambar pada Mbok Rah tidak mau meminum
obat dari dokter. Ini menunjukan Mbok Rah egis tidak mau menerima pengobatan
lain padahal itu lebih masuk akal dan abik pula untuk kesehatan dirinya
sendiri.
b.
Mbah Danu
Angkuh, keras, tetapi
penuh kasih sayang. Watak Mbah Danu yang ankuh dilukiskan atau dipaparkan
langsung oleh pengarang sendiri. Pada paragraf pertama ditunjukan oleh
kalimat”Jalannya tegak seperti maharani yang angkuh”.
Namun dibalik
keangkuhan itu Mbah Danu masih mempunyai kasih sayang. Hal itu dibuktikan oleh
tingkah laku Mbah Danu kepada Nah. Ketika Nah diobati dengan kasar dan kejam
namun kemudian Mbah Danu menidurkan Nah dengan lembut. Dibuktikan pada kalimat
”Mbah Danu menyelimuti Nah, dan memijat dahi nah dengan penuh kasih sayang”.
c.
Mr. Salyo
Rasional, berpikiran
maju dan modern, baik, dan pintar. Mr. Salyo tidak percaya pada cara pengobatan
Mbah Danu yang dekat dengan unsur magis. Mr. Salyo lebih percaya pada
pengobatan dokter yang lebih modern dan masuk akal dan tidak membahayakan.
Semua ini dapat dibuktikan melalui perkataan dan tingkah laku Mr. Salyo kepada
Mbah Danu dan istrinya.
Mr. Salyo masuk ke
kamar dari jalan-jalan tepi pantai. Dengan keras Mbah Danu di perintahkannya
keluardari kamar seperti Mbah Danu mengusir setan-setan dari tubuh-tubuh orang
sakit. Kemudian Mr. Salyo memarahi istrinya “engkau tahu bukan, bahwa pijatan
itu dapat merusak rahimmu?.”
Dari perkataan dan
tingkah laku yang digambarkan tersebut dapat disimpulkan Mr. Salyo memang tidak
percaya pada hal-hal yang tidak logis dan pintar. Mr, Salyo mengetahui cara
pengibatan yang baik dan yang tidak baik.
d.
Nyonya Salyo
Baik, penyayang, patuh,
dan hormat kepada suami. Nyonya Salyo dengan penuh perhatian dan kasih sayang
merawat Mbok Rah yang sakit. Hal ini terbukti oleh pernyataan Nyonya Salyo
sendiri “saya sendiri yang memberikan pil-pil itu kepada Mbok Rah”.
Dari pernyataan
tersebut dapat disimpulkan bahwa Nyonya salyo memang peduli dan merawat Mbok
Rah. Nyonya Salyo juga menyiapkan pemakaman Mbok Rah bersama suaminya Mr.
Salyo.
Cara Pengarang
melukiskan tokoh adalah dengan :
a. Penggambaran
fisik
Pengarang
menggambarkan fisik Mbah Danu, yaitu misalnya wajahnya yang besar seperti
tengkorak, kulitnya liat seperti belulang, pipimya selalu menonjol oleh susur
tembakau yang ada dalam mulutnya, jalannya tegak seperti seorang maharani yang
angkuh.
b. Dialog
Dialog antara Umar
Chattab dan Mr.Salyo seperti dalam kalimat berikut : “Dokter Umar Chattab
“Kininennya sudah tuan berikan sebagai yang saya tetapkan?” Tanyanya. “Ya”,
jawab Nyonya Salyo mendahului suaminya, “saya sendiri yang memberikan pil-pil
itu kepada Mbok Rah.”
Dan percakapan atau
dialog yang dilakukan antara Mr.Salyo dan Nyonya Salyo : “kita telah berbuat
sebaik mungkin”, kata Nyonya Salyo menghibur suaminya. “Mengapa Jeng, mengapa
ia meninggal ?” tanya Mr. Salyo dengan gairah sambil memeluk bahu istrinya yang
tidak menjawab. “Kita tak bisa percaya kepada nonsense itu bukan ?” katanya lagi.
5.
Sudut
Pandang
Pola
yang digunakan Nugroho pada titik kisahnya menggunakan pola orang ketiga.
Nugroho langsung mencantumkan nama tokohnya. Titik pandangan terarah yaitu pada
tingkah laku Mbah Danu sebagai seorang dukun yang hebat dan tingkah lakunya
yang salah atau tidak sesuai.
Nugroho
memakai pola orang ketiga titik pandang terarah. Nugroho tidak begitu
memperdulikan tokoh-tokoh yang lain. Tidak menggambarkan tokoh-tokohnya secara
keseluruhan melainkan nugroho lebih terfokus pada tokoh Mbah Danu sebagai dukun
yang hebat dalam menyembuhkan penyakit hingga akhirnya mendapatkan ujian atas
ekstitensinya.
6.
Gaya
Pengarang menggunakan
gaya dengan cara mengungkapkan masalah yang ditampilkannya. Pada saat tahap
klimaks (puncak masalah), pengarang mengungkapkan masalah pada saat Mbah Danu
tidak di izinkan menginjakan kakinya di rumah pak jaksa dan pada saat Mbok Rah
mati, tetangga-tetangganya mengira bahwa tulah atau kualat Mbah Danu yang
mengakibatkan Mbok Rah mati.
C. Penutup
1.
Simpulan
Apresiasi sastra hakikatnya sikap
menghargai sastra secara proporsional (pada tempatnya). Menghargai sastra
artinya memberikan harga pada sastra sehingga sastra memiliki “kapling” dalam
hati kita, dalam bathin kita.
Menghargai sastra berarti memberikan
harga kepada sastra. Dengan memberikan harga kepada sastra itu, kita berusaha
menjadikan sastra itu bermakna bagi kehidupan. Hal ini berarti bahwa kita yakin
dan percaya bahwa sastra itu berguna. Tanpa kepercayaan dan keyakinan itu tidak mungkin terwujud sikap apresiatif
terhadap sastra.
Apresiasi Prosa mengakrabkan kita dengan kehidupan. Mengakrabkan kita dengan
kehidupan berarti mendekatkan kita dengan berbagai realitas (kenyataan) yang
terjadi dalam kehidupan. Akrab dengan realitas kehidupan itu sudah dengan
sendirinya, sebab kita ada dalam kenyataan kehidupan itu.
Cerpen “Mbah Danu” mengisahkan kehidupa
sosial masyarakat di zaman yang modern akan tetapi masih memiliki
kepercayaan-kepercayaan magis. Banyak pelajaran yang bisa kita petik di
dalamnya. Diantaranya, kita tidak perlu percaya kepada pengobatan ilmu ghaib
seperti dukun, karena pada zaman sekaran sudah ada obat-obat yang dapat
digunakan hasil penelitian para dokter yang sama sekali tidak membahayakan.
DAFTAR PUSTAKA
Ahira,
Anne. (2009). Pengertian Apresiasi dan
Manfaatnya. [Online]. Tersedia : http://www.anneahira.com/pengertian-apresiasi-sastra.htm.
[25 Juni 2001].
Riswandi,
Bode dan Titin Kusmini. (2010). Pembelajaran
Apresiasi Prosa Fiksi. Tasikmalaya: Siklus Pustaka.
Sudarmanto,
A. (2009). Pengertian Cerita Pendek.
[Online]. Tersedia : http://www.visikata.com/pengertianceritapendek-cerpen/.
[25 Juni 2011].
Caesars Entertainment Partners with Las Vegas Casino in 'The
BalasHapusCaesars Entertainment Partners 울산광역 출장안마 with 구리 출장샵 Las 부천 출장샵 Vegas Casino 동해 출장안마 in 'The Biggest Payout EVER!”. · Caesars Entertainment, a 당진 출장샵 holding company headquartered in Las Vegas,